GIZI ANAK PERLU DIPERHATIKAN

| 27-07-2018   11:12:57 WIB | dilihat 75 kali

Direktur Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Eni Gustina mengatakan masalah gizi pada anak masih menjadi permasalahan yang sedang dicari solusinya. Karena itu, bertepatan dengan Hari Anak Nasional 2018, Eni menekankan salah satu yang perlu diperhatikan agar anak dapat tumbuh optimal adalah gizi.

'Asupan gizi untuk anak harus diperhatikan, terutama saat mereka dalam kandungan hingga remaja,' kata Eni pada Temu Media Hari Anak Nasional, di gedung Kemenkes, Selasa (24/7).

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Soedjatmiko mengatakan sebanyak 20% bayi baru lahir di Indonesia terlahir pendek. Jika bayi lahir pendek, maka berat lahirnya kurang.

'Pada umur antara 0-2 tahun atau 1.000 hari pertama kehidupan tetap pendek, cenderung kurang gizi kronik,' kata Soedjatmiko.

Oleh sebab itu, tambah Soedjatmiko, pemberian gizi seimbang harus dimulai sejak dalam kandungan sampai tua. Begitupun dengan ibu hamil harus mendapatkan gizi yang cukup agat melahirkan bayi sehat.

'Ibu yang sedang hamil harus makan makanan bergizi seimbang dan cukup, apabila kurang perlu ditambah dengan mengonsumsi zat besi, iodium, kalsium, zinc, vitamin A, dan vitamin D,' tambah Soedjatmiko.

Selain itu, bayi sampai usia 2 tahun diberikan ASI, MPASI seperti lauk, buah, dan sayur. Selalu pantau pertumbuhan anak setiap 1-3 bulan, kalau ada yang tidak sesuai dengan pertumbuhannya segera konsul ke petugas kesehatan terdekat.

Selain gizi, yang harus dilakukan juga adalah imunisasi agar terhindar dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, serta stimulasi dan kasih sayang yang diberikan setiap hari.

Soedjatmiko juga menyarankan untuk orangtua agar mempunyai buku panduan kesehatan ibu dan anak (KIA) yang di dalamnya terdapat panduan lengkap mengenai anak.

SUMBER : http://www.kemkes.go.id/

Facebook Twitter Google Digg Reddit LinkedIn Pinterest StumbleUpon Email

Hadis-hadis pilihan
" Barangsiapa mengulas Al Qur'an tanpa ilmu pengetahuan maka bersiaplah menduduki neraka. (HR. Abu Dawud). Penjelasan: Maksud hadits ini adalah menterjemah, menafsirkan atau menguraikan Al Qur'an hanya dengan akal pikirannya sendiri tanpa panduan dari hadits Rasulullah, panduan dari para sahabat dan ulama yang shaleh, serta tanpa akal dan naqal yang benar. "